Jumat, 15 Januari 2021

Dasar-Dasar Sistem Hidrolik Pada Bidang Otomotif

 

Materi Pembelajaran  Teknologi Dasar Otomotif

KD 3.9 Memahami dasar-dasar system hidraulik

Materi Minggu 2 Bulan Januari 2021

Jadwal Daring Jum’at, 15 Januari 2021 Pukul 13.00 -15.00

Pokok Pembahasan “Dasar-Dasar Sistem Hidrolik Pada Bidang Otomotif

PETUNJUK BELAJAR DARING

  1. Pelajari materi yang diberikan di Halaman Ini
  2. Kerjakan Evaluasi yang sudah disediakan dihalaman ini dengan mencantumkan Nama lengkap Kelas
  3. Mengerjakan Evaluasi sebagai salah satu Bukti sudah mempelajari materi ini dan sebagai bukti absensi siswa sudah melaksanakan pembelajaran daring
  4. Pengerjaan Evaluasi akan direkam Berdasarakan Waktu dan tanggal mengerjan
  5. Siswa yang telah melaksanakan evaluasi dapat dilihat di bagian Bukti Evaluasi

MATERI PEMBELAJAN

Pengertian Sistem Hidrolik

Sistem hidrolik merupakan teknologi yang berhubungan dengan sifat dan karakteristik zat atau cairan. Zat cair ini digunakan sebagai transmiting power atau penerus tenaga, pelipat ganda tenaga, dan juga untuk merubah gerakan. Pemanfaatan sistem hidrolik berdasarkan hukum pascal dimana tekanan yang diterima suatu zat atau cairan adalah sama.

Kelebihan Dan Kekurangan Sistem Hidrolik

Kelebihan Sistem Hidrolik

Beberapa keuntungan penggunaan tenaga hidrolik sebagai berikut:
  • Dapat memindahkan tenaga yang besar dengan komponen yang relatif kecil.
  • Pengontrolan dan pengaturan yang lebih mudah.
  • Mudah dipindahkan kearah kebalikannya (reversible)
  • Melumasi dan merawat diri sehingga umur lebih lama
  • Rancangan yang sederhana
  • Fleksibilitas
  • Tidak menimbulkan kebisingan
  • Kontrol
  • Efisiensi gaya yang tinggi
  • Perlindungan terhadap beban berlebih dengan katup-katup yang bekerja otomatis

Kekurangan Sistem Hidrolik

Berikut beberapa kelemahan dari penggunaan tenaga hidrolik:
  • Rawan kecelakan akibat tekanan tinggi cairan
  • Kebocoran kecil bisa berakibat fatal
  • Sistem hidrolik memerlukan komponen dengan presisi yang tinggi
  • Membutuhkan perawatan intensif

Komponen Sistem Hidrolik Dan Fungsinya

Pembangkit Tekanan Hidrolis

Pembangkit tekanan hidrolis merupakan komponen yang digunakan untuk mengubah energi mekanis menjadi energi tekanan. Komponen yang biasa digunakan yaitu pompa tekanan. Pompa ini akan menaikkan tekanan hidrolis sampai batas yang dibutuhkan oleh sistem.
  • Hand Operated Hydraulics Pump: merupakan pompa yang digerakkan menggunakan tangan sebagai backup terhadap pompa utama dan ground check pada sistem hidrolik. Dua langkah dari hand pump akan menghasilkan aliran tekanan hidrolik yang digunakan oleh sistem.
  • Power Driven Hydraulics Pump: merupakan pompa tekanan yang mendapatkan tenaga gerak dari mesin luar misal engine atau penggerak lainnya. Tenaga mekanik ini dikonversi menjadi tenaga hidrolik untuk menaikkan tekanan pada sistem. Pada pompa di bedakan menjadi empat bagian yaitu gear, vane, diapragh, dan piston. Pada pompa dan penggerak dihubungkan dengan driven coupling.
     
  • Constant Delivery Pump: merupakan pompa yang menghasilkan massa cairan tertentu dan tidak tergantung pada tekanan yang dibutuhkan sistem. Hal ini berarti tekanan hidrolis yang dihasilkan pompa sama setiap saat. Oleh karena itu dibutuhkan pressure regulator yang berfungsi untuk menyesuiakan tekanan yang dialirkan ke sistem. Pompa tipe ini dibedakan menjadi dua yaitu angular dan cam. Berikut contoh pompa contant tipe angular.
     
  • Stationary Cam Pump: merupakan pompa dimana cam diam sedangkan piston push rod berputar. Pompa ini merupakan kebalikan dari pompa tipe rotation cam.
  • Variable Delivery Piston Pump: merupakan pompa yang dilengkapi dengan spider untuk menggerakkan piston sleeve yang mengatur kapan piston menekan cairan. Apabila tekanan mulai menurun maka sleeve akan bergerak kekanan sehingga tekanan menjadi naik kembali dan sebaliknya sleeve akan bergerak kekiri untuk mengurangi tekanan hidrolis. Gerakan sleeve ini diatur oleh hidrolis melalui compensator piston. 

Penyalur Tekanan Hidrolis

Penyalur tekanan hidrolis merupakan komponen yang berfungsi untuk menyalurkan hidrolis bertekanan ke sistem yang membutuhkan. Komponen penyalur tekanan hidrolis biasanya yaitu pipa-pipa tekanan tinggi. Berikut jenis pipa penyalur hidrolis.
  • Pipa Metal Rigid
  • Pipa Karet 

Pengubah Tekanan Hidrolis Menjadi Energi Mekanis

Komponen ini dinamakan dengan aktuator. Terdapat berbagai macam bentuk aktuator disesuaikan dengan fungsinya. Tekanan hidrolis yang dibangkitkan oleh pompa tekanan dapat diubah menjadi energi mekanis seperti putaran maupun gerak translasi.Untuk merubah menjadi gerak translasi tentunya membutuhkan silinder baik yang single action maupun double action. Berikut jenis aktuator yang ada pada sistem hidrolik:
  • Single Action merupakan silinder yang hanya dapat mendorong pada satu sisi, sedangkan untuk sisi yang lain biasa menggunakan pegas atau beban atau beratnya sendiri.
  • Double Acting merupakan silinder yang dapat mendorong pada kedua sisi. Konstruksi sama seperti single action namun memiliki keuntungan karena memberikan tenaga pada kedua sisi. 
  • Motor Hidraulic merupakan actuator yang dapat mengubah tenaga hidrolis menjadi gerak putar mekanik yang kontinyu. Berikut macam-macam motor hidrolik yaitu piston hidrolik motor, sliding vane motor, dan gear motor. Berikut contoh motor hidrolik tipe piston.

Simbol-Simbol Sistem Hidrolik

Berikut beberapa simbol dalam sistem hidrolik:
Simbol Dasar Hidrolik










Simbol-Simbol Katup
Simbol-Simbol Aktuator

Berikut contoh sebuah sistem hidrolis sederhanan:

Prinsip Kerja Sistem Hidrolik

Pada umumnya kerja hidrolik berdasarkan prinsip hukum pascal dimana: 

P= F/A

P= Tekanan Dalam N/m2 (bar)
F= Gaya dalam Newton
A= Luas penampang dalam m2.

Dimana sebuah hidrolis yang diberikan gaya tertentu dalam sebuah penampang akan menghasilkan tekanan yang sama pada seluruh ruang. Rumus tersebut dimanfaatkan dalam penggunaan sistem hidrolis dimana gaya yang diberikan pada satu titik akan diteruskan ketitik lain menggunakan cairan yang dimampatkan. Sebagai contoh gambar sebagai berikut:
Dengan permainan luas penampang maka tekanan yang dihasilkan pada titik lain dapat berkali-kali lipat dibanding tekanan yang diberikan pada titik awal. Hidrolis yang digunakan bisa minyak atau oli yang mudah dimampatkan dan mempunyai sifat melumasi.

Contoh Penggunaan Sistem Hidrolis Pada Kendaraan

  • Sistem Rem dimana hidrolis ditekan pada sebuah ruangan yaitu master silinder menggunakan pedal rem. Hidrolis bertekanan dialirkan ke masing-masing piston rem yang kemudian piston rem akan terdorong untuk menggerakan kampas rem atau menekan piringan pada rem cakram.
  • Sistem hidrolik power steering, dimana hidrolis diberikan tekanan oleh pompa. Hidrolis bertekanan akan mengalir ke rotary control valve yang akan mengarahkan hidrolis untuk mendorong piston sisi kanan atau kiri untuk membantu menggerakkan rack sehingga lebih ringan.
EVALUASI


Kamis, 14 Januari 2021

Perawatan Berkala Sistem Pengapian Elektronik Sepeda Motor(Komponen Pengapian Elektronik)

 

Materi Pembelajaran  “Pemeliharaan Kelistrikan Sepeda Motor”

KD 3.4 Memahami Prinsip Kerja Sistem Pengapian Konvensional

Materi Minggu 2 Bulan Januari 2021

Jadwal Daring Kamis, 14 Januari 2021 Pukul 07.30 -09.00

Pokok Pembahasan “ Perawatan Berkala Sistem Pengapian Elektronik Sepeda Motor”(Komponen Sistem Pengapian Elektronik)

 

PETUNJUK BELAJAR DARING

  1.  Pelajari materi yang diberikan di Halaman Ini
  2. Kerjakan Evaluasi yang sudah disediakan dihalaman ini dengan mencantumkan Nama lengkap Kelas
  3. Mengerjakan Evaluasi sebagai salah satu Bukti sudah mempelajari materi ini dan sebagai bukti absensi siswa sudah melaksanakan pembelajaran daring
  4. Pengerjaan Evaluasi akan direkam Berdasarakan Waktu dan tanggal mengerjan
  5. Siswa yang telah melaksanakan evaluasi dapat dilihat di bagian Bukti Evaluasi

MATERI PEMBELAJAN

PERAWATAN BERKALA SISTEM PENGAPIAN ELEKTRONIK

SEPEDA MOTOR

Setelah pengembangan teknologi control mekanis berhenti karena menemui berbagai keterbatasan, teknologi control elektronik muncul dan menggantikannya. Sejak dimulainya aplikasi control elektronik di dunia otomotif perkembangannya sangat pesat hingga saat ini.
Kinerja pengapian elektronik relative lebih sederhana dan lebih stabil dan dapat diandalakan diberbagai kondisi. Untuk perawatan system pengapian elektronik secara berkala juga semakin sederhana.

Sistem pengapian elektronik sudah berkembang sangat lama, yaitu sejak puluhan tahun yang lalu. Ada beberapa macam system pengapian elektronik, namun yang paling popular dan banyak di ketahua masyarakat adalah Capasitor Dishcharge Ignition (CDI). Sebelum kita melangkah lebih jauh, mari kita berdo’a kepada Allah SWT sebagai rasa syukur kita atas nikmat ilmu yang telah kita dapatkan.

A. Komponen Sistem Pengapian Elektronik

Sebagai sebuah system, system pengapian elektronik terdirir dari beberapa
komponen. Beberapa komponen diantaranya memiliki kesamaan dengan komponen pengapian konvensional. Perbedaan utama antara pengapian konvensional dan elektronik terletak pada piranti elektroniknya. Mari kita pelajari komponen-komponen system pengapian elektronik

1. Busi



Busi adalah komponen pengapian elektronik yang berfungsi sebagai penghasil
percikan bunga api dalam silinder. Beberapa tahun ini marak busi yang menggunakan resistor yang berfungsi untuk mengurangi efek dari gelombang elektro magnetic, pada berbagai komponen sepeda motor. Beberapa komponen yang sensitive terhadap gelombang elektro magnetic busi yaitu sensor-sensor, speedo meter digital (elektrik), panel instrument digital dan komponen lainnya.

 


Busi dengan resistor memang digunakan untuk seoeda motor dengan penggunan komponen tersebut, maka jika busi kendaraan rusak (mati) jangan pernah mengganti dengan busi tanpa resistor karena akan menggangu beberapa komponen tadi.



Untuk mengetahui busi dengan resistor cukup melihat kode “R” yang di pasang pada kode busi, contoh busi tanpa resistor akanmemberikan kode C6HSA maka busi dengan resistor akan tertulis CR6HSA.


2. Koil, kabel busi dan tutup busi

Ketiga komponen ini masih sama dengan komponen pengapian konvensional,
ketiganya berfungsi untuk membangkitkan tegangan tinggi dan mengalirkan ke busi. Konstruksinyapun serupa, yaitu kabel busi dank oil menyatu, sedangkan tutp busi bisa dilepas dari kabel busi 




Koil CDI mempunyai ciri hanya memiliki satu terminal kabel. Sedangkan koil
yang digunakan pada system pengapian Transistor (Transistor Controlled Ignition/TCI), konstruksi dan spesifikasi sedikit berbeda. Perbedaan terjadi karena cara kerja kedua komponen juga berbeda (nanti akan di bahas pada sub bab berikutnya). Pada koil system CDI, kabel terhubung dengan output CDI.



Dua Koil TCI masing-masing terhubung dengan dengan tegangan 12 V Baterai

dan massa. Massa TCI tidak langsung terhubung dengan body kendaraan, tetapi dihungungkan dengan modul khusus. Sedangkan hambatan kumparan primer koil TCI lebih besar daripada kumparan primer koil system CDI.

3. Komponen Pengontrol Waktu Pengapian
Ada dua macam komponen pengontrol waktu pengapian yang digunakan


system elektroni, yaitu komponen pengontrol yang menggunakan CDI dan TCI. CDI umumnya mempunyai warna hitam dan memiliki satu soket kabel. CDI biasanya berbentuk kotak dan bagian luarnya terbuat dari plastic keras.CDI adalah rangkaian kelistrikan yang dibuat pada sebuah PCB. Komponen CDi sangat bermacam-macam dan bervariasi tergantung jenis CDI dan sepeda motornya. CDI dirancang untuk tidak diperbaiki, maka jika CDI rusak harus diganti.


Sebagian besar sepeda motor (Karburator) menggunakan CDI. CDI hampir



sama dengan TCI, hanya saja komponen penyusun saja yang berbeda. TCI menggunakan Transistor, resistor,IC dan komponen lainnya.biasanya TCI lebih banyak digunakan pada sepeda motor Injeksi, yang mana TCI menjadi satu dengan ECU.


4. Sumber Tegangan Primer Sistem Pengapian Elektronik

Sama seperti pengapian konvensional, ada dua macam tegangan primer yang
digunakan system pengapian elektronik, yaitu dari baterai dan kumparan pengapian.



Sistem CDI yang menggunakan sumber tegangan primer dari kumparan pengapian disebut dengan CDI AC. Penamaan itu karena kumparan pengapian menghasilkan arus AC.
Sedangkan system pengapian yang sumber tegangan primernya dari baterai di sebut system CDI DC. Penyebutan ini di karenakan arus yang dikeluarkan oleh baterai berupa tegangan DC.

Khusus untuk system pengapian TCI atau yang di control langsung oleh ECU,
tegangan primer selalu beasal dari baterai. Arus yang berasal dari baterai cenderung lebih stabil dan berupa arus searah murni. Oleh karena itu, hampir semua kendaraan modern lebih banyak menggunakan system pengapian baterai daripada system pengapian dengan kumparan pengapian. Pada system CDI ACpun, arus listrik yang dihasilkan kumparan primer akan diubah menjadi arus searah oleh diode. Jadi dengan penggunaan arus searah tidak lagi dibutuhkan komponen pengubah arus AC menjadi DC. 



5. Pickup Coil/Pulser Coil

Komponen picup/pulser coil hanya digunakan pada pengapian elektronik,
seperti CDI ataupun TCI. Komponen ini berfungsi memberikan signal kepada modulpengapian CDI dan TCI yang digunakan sebagai pedoman menentukan waktu yang tepatmemercikan bunga api di busi.



Pada dasarnya komponen ini berupa kumparan dan saat bekerja akan
menghasilkan tenaga listrik yang kecil untuk di jadikan sinyal waktu pengapian. Pickup coil biasanya terpasang diruang magnet/rotor. Cara kerja pickup koil sangat sederhana, yaitu bila tonjolan yang ada di magnet melewati pickup coil, pickup coil akan membangkitkan tenaga listrik. Tegangan listrik ini yang di kirim ke CDI atau TCI dan memicu proses pengapian.




6. Komponen lainnya


Kunci kontak, sekring dan rangkaian kabel termasuk dalam komponen system
pengapian yang mengatur kerja system pengapian secara tidak langsung. Kunci kontak berfungsi mengalirkan dan memutus aliran arus listrik ke system pengapian.

Sekring berfungsi melindungi system pengapian dan komponen-komponennya

bila terjadi hubungan pendek. 
Rangkaian kabel berfungsi menghubungkan kabel berfungsi menghubungkan
komponen-komponen pengapian hingga membentuk sebuah system pengapian.

Selain komponen-komponen tadi, pada sepeda motor tertentu masih ada

komponen tambahan yang berfungsi sebagai komponen pengaman. Contohnya sakelar standart samping yang akan memutus arus pengapian saat standar samping belum dilipat/dinaikkan.

EVALUASI

Hasil Evaluasi


Jumat, 08 Januari 2021

Dasar- Dasar Sistem Hidrolik

 

Materi Pembelajaran  Teknologi Dasar Otomotif

KD 3.9 Memahami dasar-dasar system hidraulik

Materi Minggu 1 Bulan Januari 2021

Jadwal Daring Jum’at, 8 Januari 2021 Pukul 13.00 -15.00

Pokok Pembahasan “Dasar- Dasar Hidrolik

PETUNJUK BELAJAR DARING

  1. Pelajari materi yang diberikan di Halaman Ini
  2. Kerjakan Evaluasi yang sudah disediakan dihalaman ini dengan mencantumkan Nama lengkap Kelas
  3. Mengerjakan Evaluasi sebagai salah satu Bukti sudah mempelajari materi ini dan sebagai bukti absensi siswa sudah melaksanakan pembelajaran daring
  4. Pengerjaan Evaluasi akan direkam Berdasarakan Waktu dan tanggal mengerjan
  5. Siswa yang telah melaksanakan evaluasi dapat dilihat di bagian Bukti Evaluasi

MATERI PEMBELAJAN

DASAR-DASAR HYDROLIC

 PENGETAHUAN DASAR HYDROLIK

I. DASAR SISTEM HIDROLIK.
Dalam sistem hidrolik fluida cair berfungsi sebagai penerus gaya. Minyak mineral adalah jenis fluida cair yang umum dipakai.

Sifat dari zat cair :
- Tidak mempunyai bentuk yang tetap, selalu menyesuaikan bentuk yang ditempatinya.
- Zat cair tidak dapat dikompresi.
- Meneruskan tekanan ke segala arah.

Hidrolik dapat dinyatakan sebagai alat yang memindahkan tenaga dengan mendorong sejumlah cairan tertentu. Komponen pembangkit aliran fluida bertekanan disebut pompa, dan komponen pengubah tekanan hidrolik menjadi gerak mekanik (lurus/rotasi) disebut elemen kerja (silinder/motor hidroulik).

Keuntungan-keuntungan sistem hidrolik :
- Fleksibel dalam penempatan komponen transmisi tenaga.
- Gaya yang sangat kecil dapat digunakan untuk mengangkut gaya yang besar.
- Penerus gaya (oli) juga berfungsi sebagai pelumas.
- Beban dengan mudah bisa dikontrol dengan menggunakan katup pengatur tekanan (relief valve).
- Dapat dioperasikan pada kecepatan yang berubah-ubah.
- Arah operasi dapat dibalik seketika.
- Lebih aman jika beroperasi pada beban berlebih.
- Tenaga dapat disimpan dalam akumulator.

Kelemahan sistem hidrolik :
Sistem hidrolik membutuhkan suatu lingkungan yang betul-betul bersih. Komponen-komponennya sangat peka terhadap kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh debu, korosi dan kotoran-kotoran lain, serta panas yang mempengaruhi sifat-sifat minyak hidrolik.

PERSAMAAN / RUMUS DASAR
Tekanan adalah gaya per-satuan luas penampang.
Dalam persamaan dinyatakan dengan :

P = F / A

dimana :
P = Pressure/ Tekanan (Pascal).
F = Force/gaya (Newton).
A = Area/luas (Meter 2)

Kapasitas adalah jumlah aliran per-satuan waktu.
Dalam persamaan dinyatakan dengan :


Q = V / t

dimana :
Q = Kapasitas/Debit (M3/dt).
V = Volume Fluida (M3).
t = Waktu (dt).

Atau ;

Q = A x V

dimana :
A = Luas (Meter 2).
V = Kecepatan Fluida (M/dt).

Persamaan Boyle :
P1 x V1 = P2 x V2

dimana :
P = Tekanan
V = Volume

Persamaan Kontinuitas :
Q1 = Q2 A1 x V1 = A2 x V2

Konversi satuan :
- 1 Pascal = 1 Newton/ Meter2 (Pa = N/M2)
- 1 Bar = 105 Pa = 100 kPa = 14.7 Psi (Lbf/ in2) = 1 Kgf/ Cm2
- 1 M3/dt = 60 M3/menit
- 1 M3/menit = 1000 LPM (liter/menit).

II. FLUIDA HIDROLIK.
Fungsi fluida hidrolik :
- Sebagai pemindah/penerus gaya.
- Pelumas bagian-bagian yang bergesekan.
- Pengisi celah (seal) jarak antara dua bidang yang melakukan gesekan.
- Sebagai pendingin atau penyerap panas yang timbul akibat gesekan.

Syarat fluida hidrolik :
- Mampu mencegah korosi atau kontaminasi.
- Mampu mencegah adanya pembentukan endapan.
- Tidak mudah membentuk buih-buih oli.
- Stabil & mampu menjaga nilai kekentalan.
- Dapat memisahkan kandungan air.
- Sesuai atau cocok dengan penyekat/seal dan gasket yang dipakai pada komponen.

Hal terpenting yang perlu diperhatikan dalam pemilihan fluida hidrolik adalah “Viscositas”, karena viscositas akan mempengaruhi kemampuan untuk mengalir dan melumasi bagian-bagian yang bergesakan. Viscositas fluida hidrolik dinyatakan dengan Nilai Viscositas.

Dalam pemilihan nilai viscositas oli sebaiknya mengacu pada manufactur pompa / sistem hidrolik agar sistem bekerja secara optimal.

Viscositas oli yag tinggi memberikan pengisian yang baik antara celah (gap) dari pompa, valve & motor hidrolik, tetapi jika nilai viscositas terlalu tinggi akan mengakibatkan :
- Hambatan yang besar sehingga menyebabkan seretnya gesekan elemen penggerak (actuator) dan kavitasi pompa (udara masuk ke pompa).
- Pemakaian tenaga bertambah, karena kerugian gesekan.
- Penurunan tekanan bertambah melalui saluran-saluran dan katup-katup.

Jika viscositas oli terlalu rendah, akan mengakibatkan :
- Kerugian-kerugian kebocoran dalam yang berlebihan.
- Aus berlebihan oleh karena pelumasan tidak mencukupi pada pompa dan motor.
- Menurunkan efisiensi motor dan pompa.
- Suhu oli naik atau bertambah karena kerugian-kerugian kebocoran bagian dalam.

Nilai viscositas oli dinyatakan dengan :
- Viscositas absolut : Poise atau Centipoise (Cp).
Pressure Regulating Valve
- Viscositas kinematik : Centistoke (Cst).
- Viscositas relatif : SUS (Saybolt Universal Second).
- Angka koefisien Society of Automotive Engineer (SAE).
- Derajat engler (oE)

III. PRESSURE REGULATING VALVE (KATUP PENGATUR TEKANAN)
Pressure regulating valve digunakan untuk mengatur tekanan sistem atau subsistem suatu rangkaian hidrolik. Ada beberapa jenis valve tersebut yang mana fungsi dari valve tersebut didalam rangkaian dijadikan dasar untuk penamaannya.

Beberapa Valve yang digolongkan dalam rressure regulating valve adalah Pressure relief valve (Katup pelepas/pengaman tekanan), Pressure reducing valve (Katup penurun tekanan). Unloading valve, Offloanding valve, Counter balance valve dan Sequence valve

a. Pressure Relief Valve
Digunakan untuk mengatasi tekanan maksimum sistem dalam rangkaian atau sub rangkaian, dengan demikian akan memberikan perlindungan terhadap beban berlebih.

b. Pressure Reducing Valve
Digunakan untuk mengurangi atau menurunkan batas-batas tekanan dari rangkaian utama ke tekanan yang lebih rendah pada suatu sub rangkaian.

c. Unloading Valve
- Digunakan untuk menyediakan arah balik aliran pompa ke tanki, sementara sistem harus dipertahankan (sistem unloading).
- Disebut juga katup pengisi akumulator.

d. Offloading Valve
Digunakan untuk menyediakan arah balik aliran pompa ke tangki sementara tekanan sistem tidak dipertahankan (sistem off loading).

e. Counter Balance Valve
Digunakan untuk memberikan perlawanan aliran fluida pada saat batas-batas tekanan yang dapat dipilih (gaya pengimbang).

f. Sequence Valve
Digunakan untuk menimbulkan gerakan dalam suatu sistem dalam suatu urutan-urutan tertentu dan untuk menjaga tekanan minimum yang ditentukan sebelumnya dalam saluran primer sementara operasi sekunder tetap berlangsung.

EVALUASI PEMBELAJAN

HASIL 


Kamis, 07 Januari 2021

Sistem Pengapian Konvensional

 Materi Pembelajaran  Pemeliharaan Kelistrikan Sepeda Motor Kelas XI

KD 3.4 Memahami Prinsip Kerja Sistem Pengapian Konvensional

Materi Minggu 1 Bulan Januari 2021 

Jadwal Daring Kamis, 7 Januari 2021 Pukul 07.30 -09.00

Pokok Pembahasan Sistem Pengapian Konvensional Pada Mesin Sepeda Motor

PETUNJUK BELAJAR DARING 

  1. Pelajari materi yang diberikan di Halaman Ini 
  2. Kerjakan Evaluasi yang sudah disediakan dihalaman ini dengan mencantumkan Nama lengkap Kelas
  3. Mengerjakan Evaluasi sebagai salah satu Bukti sudah mempelajari materi ini dan sebagai bukti absensi siswa sudah melaksanakan pembelajaran daring
  4. Pengerjaan Evaluasi akan direkam Berdasarakan Waktu dan tanggal mengerjan
  5. Siswa yang telah melaksanakan evaluasi dapat dilihat di bagian Bukti Evaluasi
MATERI PEMBELAJAN

Jenis - Jenis Sistem Pengapian Konvensional Sepeda Motor - Sistem pengapian berfungsi menghasilkan percikan bunga api pada busi pada saat yang tepat untuk membakar campuran bahan bakar dan udara di dalam silinder. Sistem pengapian mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangkitan tenaga (daya) yang dihasilkan oleh suatu mesin bensin.

Apabila sistem pengapian tidak bekerja dengan baik dan tepat, maka kelancaran proses pembakaran campuran bahan bakar dan udara di dalam ruang bakar akan terganggu sehingga tenaga yang dihasilkan oleh mesin berkurang. 

Jenis - Jenis Sistem Pengapian Konvensional Sepeda Motor


Menurut sumber tegangannya, sistem pengapian koncensional sepeda motor dibedakan menjadi dua jenis, yaitu : 
  • Sistem pengapian konvensional magnet (Arus AC)
  • Sistem pengapian konvensional baterai (Arus DC)

A. Sistem Pengapian Konvensional Magnet (Arus AC)

Sumber tegangan didapat dari alternator (kumparan pembangkit dan magnet), sehingga arus yang digunakan merupakan arus bolak-balik (AC).

Komponen - Komponen Sistem Pengapian Konvensional Magnet (Arus AC)

1. Altenator
Alternator

Alternator (Kumparan Pembangkit dan Magnet), berfungsi untuk mengubah energi mekanis yang didapatkan dari putaran mesin menjadi tenaga listrik (AC).

2. Kunci kontak
Kunci Kontak Pengapian AC

Kunci kontak untuk pengapian AC (pengendali massa), kunci kontak berfungsi sebagai saklar utama untuk menghubung dan memutus (On-Off) rangkaian kelistrikan sepeda motor.

3. Kumparan Pengapian (Koil Pengapian / Ignition Coil)
Kumparan Pengapian, berfungsi untuk menaikkan tegangan yang diterima dari sumber tegangan (alternator) menjadi tegangan tinggi yang diperlukan untuk pengapian.

4. Kontak Platina (Contact Breaker)
Kontak Platina, berfungsi sebagai saklar rangkaian primer pengapian, menghubungkan dan memutuskan arus listrik yang mengalir melalui kumparan primer pada kumparan pengapian untuk menghasilkan arus listrik tegangan tinggi pada kumparan sekunder dengan cara induksi elektromagnet.

5. Nok Platina
Nok Platina, membuka kontak platina pada waktu (sudut engkol) yang tepat, sehingga saat pengapian dapat diatur menurut ketentuan.

6. Kondensor (Capacitor)
Kondensor

Mempunyai kemampuan sejumlah muatan listrik sesuai kapasitasnya dan dalam waktu tertentu. Kondensor dalam sistem pengapian konvensional berfungsi untuk menyerap/meredam loncatan bunga api pada kontak platina yang terjadi pada saat kontak platina mulai membuka dengan tujuan untuk mempercepat pemutusan arus primer sehingga meningkatkan tegangan pada kumparan pengapian sekunder.

7. Busi
Busi, mengeluarkan arus listrik tegangan tinggi menjadi loncatan bunga api melalui elektrodanya.

Cara Kerja Sistem Pengapian Konvensional Magnet (Arus AC)

Saat Kunci Kontak OFF :
  • Kunci kontak menghubungkan (by pass) rangkaian primer sistem pengapian dengan massa kunci kontak. walaupun kendaraan distarter arus listrik yang dihasilkan alternator akan selalu mengalir ke massa melalui kunci kontak.
  • Tidak ada arus yang mengalir ke rangkaian primer sistem pengapian walaupun kontak platina membuka dan menutup sehingga tidak terjadi induksi pada kumparan pengapian dan motor tidak dapat dihidupkan.

Saat Kunci Kontak ON :
  • Hubungan ke massa melalui kunci kontak terputus, sehingga arus listrik yang dihasilkan alternator akan disalurkan ke sistem pengapian. Kontak platina dalam keadaan menutup (Nok/cam pada posisi tidak menekan kontak platina).
  • Saat kontak platina pada posisi menutup sehingga terjadi hubungan antara tegangan yang dihasilkan alternator dengan massa melalui kontak platina.Arus dari sumber tegangan (alternator) ⇒ Kontak Platina ⇒ Massa.
  • Dalam keadaan ini tidak ada arus listrik yang mengalir ke Kumparan Primer Koil Pengapian. Kontak platina mulai membuka Nok/cam pada posisi mulai menekan platina.
  • Kontak Platina membuka, memutuskan arus primer dari alternator yang mengalir ke massa melaui kontak platina.
  • Arus listrik akan mengalir ke kondensor untuk mengisi sesaat sampai muatan kondensor penuh dan menuju kumparan primer koil pengapian.
    Saat Kontak Platina Menutup

    • Begitu muatan kondensor penuh, kondensor melepaskan muatannya ke kumparan primer koil sehingga timbul gaya kemagnetan sesaat pada kumparan primer koil dan hal ini menyebabkan pada kumparan sekunder koil pengapian akan terjadi induksi tegangan tinggi (± 10.000 Volt) yangditeruskan ke busi melalui kabel tahanan tinggi (kabel busi).
    Saat Kontak Platina Membuka

    B. Sistem Pengapian Konvensional Baterai (Arus DC)

    Sumber tegangan diperoleh dari tegangan baterai (yang disuplay oleh sistem pengisian), sehingga arus yang digunakan merupakan arus searah (DC).
      Skema Sistem Pengapian Magnet Konvensional

      Komponen Sistem Pengapian Konvensional Baterai (Arus DC)

      1. Baterai
      Baterai

      Sumber tegangan DC (Direct Current) berupa baterai yang didukung oleh sistem pengisian (Kumparan Pengisian, Magnet dan Rectifier/Regulator), berfungsi sebagai penyedia tegangan DC yang diperlukan oleh sistem pengisian. 

      Baterai merupakan sebuah alat elektro-kimia yang dibuat untuk mensuplai energi listrik tegangan rendah (pada sepeda motor menggunakan 6 Volt dan atau 12 Volt) ke sistem pengapian, starter, lampu dan komponen kelistrikan lainnya. Baterai menyimpan listrik dalam bentuk energi kimia, yang dikeluarkan apabila diperlukan sesuai beban/sistem yang memerlukannya.

      2. Kunci Kontak 
      Berfungsi sebagai saklar utama untuk menghubung dan memutus (On-Off) rangkaian kelistrikan sepeda motor.

      Kunci kontak untuk pengapian konvensional DC (pengendali positif) :
      • Pada posisi ON, kunci kontak menghubungkan tegangan (+) baterai ke seluruh sistem kelistrikan (termasuk sistem pengapian) untuk mengoperasikan seluruh sistem kelistrikan yang ada.
      • Pada posisi OFF dan LOCK, kunci kontak memutuskan hubungan kelistrikan dari sumber tegangan (terminal (+) baterai) yang dibutuhkan oleh seluruh sistem kelistrikan, sehingga seluruh sistem kelistrikan tidak dapat dioperasikan.
      Kunci Kontak Pengapian DC

      3. Koil Pengapian (Ignition Coil)
      Koil Pengapian (AC)


      Koil Pengapian (Ignition Coil) berfungsi untuk menaikkan tegangan yang diterima dari sumber tegangan (alternator) menjadi tegangan tinggi yang diperlukan untuk pengapian.

      Dalam kumparan pengapian terdapat kumparan primer dan kumparan sekunder yang dililitkan pada tumpukan-tumpukan plat besi tipis. Diameter kawat pada kumparan primer 0,6 - 0,9 mm,dengan jumlah lilitan 200 - 400 kali, sedangkan diameter kawat pada kumparan sekunder 0,05 - 0,08 mm dengan jumlah lilitan sebanyak 2000 - 15.000 kali.

      Karena perbedaan jumlah gulungan pada kumparan primer dan sekunder tersebut, dengan cara mengalirkan arus listrik secara terputus-putus pada kumparan primer (sehingga pada kumparan primer timbul/hilang kemagnetan secara tiba-tiba), maka kumparan sekunder akan terinduksi sehingga timbul induksi tegangan tinggi sebesar  10.000 volt.

      4. Kontak Platina (Contact Breaker)
      Kontak Platina
      Bukti Evaluasi ada disini
      Evaluasi 



      KI dan KD Mapel Teknologi Dasar Otomotif

       KI dan KD ( Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar)

      Mata Pelajaran          : Teknologi Dasar Otomotif

      Kelas                          : X

      Program Keahlian       : Teknik Otomotif (SMK)






      MONITORING SUHU MENGGUNAKAN ARDUINO UNO DAN SENSOR TMP36

      JOBSHEET PRAKTIK IoT KELAS XII TKJ MONITORING SUHU MENGGUNAKAN ARDUINO UNO DAN SENSOR TMP36 Simulasi Tinkercad Circuits A. IDENTITAS Mata Pe...