Dalam sistem penerangan terdapat banyak
jenis rangkaian, hal tersebut bertujuan membuat instalasi penerangan yang
selaian aman dan nyaman bagi pengemudi. Pada dasarnya sistem penerangan
terdapat dua jenis yaitu sistem penerangan luar dan sistem penerangan dalam,
untuk lebih jelas sebagai berikut:
1. Sistem Penerangan Luar
a.Lampu
Kota
Lampu kota adalah lampu yang berfungsi
pada siang hari bertujuan untuk memberikan isyarat kepada pengendara lainya.
Untuk lebih jelasnya perhatikan wiring diagram di bawah ini:
b.Lampu
Kepala
Lampu kepala atau lampu utama merupakan
lampu yang wajib terpasang pada jenis kendaraan manapun. Untuk saat ini lampu
kepala tidak hanya digunakan pada malam hari sebagai penerangan peraturan lalu
lintas yang baru lampu utama harus menyala baik pada siang hari atau malam
hari. Hal tersebut bertujuan untuk keamanan saat berkendaran dan keamanan baik
pengemudi atau pengendara yang lain. Lebih jelasnya perhatikan wiring diagram
di bawah ini:
c.Lampu
Sein dan Hazard
Jenis lampu ini biasanya dinakan lampu
tanda belok atau lampu peringatan tanda bahaya. Lampu Sein dan Hazard wajib
terpasang di setiap kendaraan karena jenis lampu ini bertujuan memberikan
peringata ketika pengendara sedang berbelok ke kanan atau ke kiri, bahkan untuk
jenis lampu hazard memberikan tanda bahaya untuk pengendara di belakang. Untuk
lebih jelasnya perhatikan wiring diagram di bawah ini:
Gambar 6.10
Wiring Diagram Lampu Sein dan Hazard
d.Lampu
Mundur
Lampu mundur merupakan lampu untuk memberikan
isyrat bahwa mobil dalam keadaan ingin mundur. Lampu mundur secara otomatis
menyala ketika pengendara mengganti pada posisi (R) pada perpindahan gigi atau
perseneling. Untuk lebih jelasnya perhatikan wiring diagram di bawah ini:
e.Lampu
Rem
Lampu rem akan berfungsi secara otomatis
apabila pengendara mengijak pedal rem, hal tersebut bertukuan untuk memberi
peringatan bagi pengendara lain kalau sedang dalam mengurangi kecepatan
sehingga akan menghidari dari tabrakan. Untuk lebih jelasnya perhatikan wiring
diagram sebagai berikut:
Dari rangakain instalasi penerangan
diatas pada dasarnya memiliki fungsi masing-masing selain sebagai penerangan
rangkaian tersebut sebagai tanda atau peringatan bagi pengendara lain supaya
bisa berhati-hati di jalan. Untuk lebih jelasnya apabila rangkaian keseluruahan
dari sistem penerangan.
Sistem Penerangan Dalam
a.Lampu
ruangan (dome light)
Lampu ruangan atau lampu kabin berfungsi
untuk menerangi interior ruangan penumpang yang dirancang agar tidak
menyilaukan pengemudi pada malam hari. Umumnya lampu ruangan (interior)
letaknya di bagian tengah ruang penumpang kendaraan untuk menerangi interior
dengan merata. Lampu ini disatukan dengan switchnya yang mempunyai 3 (tiga) p
osisi yaitu : ON, DOOR dan OFF. (untuk memberi kemudahan keluar masuk pada
malam hari, lampu ruangan dapat disetel hanya menyala bila salah satu pintunya
dibuka. Ini dapat dilakukan dengan menyetel switch pada posisi DOOR.
bLampu
Instrumen Panel (lampu meter).
Lampu instrumen panel terpasang pada
bagian dashboard digunakan untuk menerangi meter-meter pada instrumen panel
pada malam hari dan memungkinkan pengemudi membaca meter-meter dan gauge dengan
mudah dan cepat pada saat mengemudi. Lampu instrumen panel akan menyala bila
lampu belakang (tail light) menyala.
Ada beberapa model yang dilengkapi dengan lampu pengontrol rheostat yang memungkinkan pengendara mengontrol terangnya lampu-lampu
pada instrumen panel.
Pada materi kelistrikan akan mengurai
secara mendalam terkait sistem penerangan dan panel instrumen pada mobil.
Sistem penerangan adalah intalasi dari berbagai rangkaian penerangan pada
kendaraan atau semua sistem kelistrikan pada bodi kendaraan yang bertujuan
untuk menjamin keamanan dan kenyamanan saat berkendara.
Tujuan utama sistem penerangan secara
umum sebagai pencahayaan saat pagi atau malam hari, akan tetapi menurut fungsi
sistem penerangan adalah sebagai penerangan pada kendaraan untuk memberikan
tanda-tanda kepada pengendara lain misalnya pada saat akan membelok maupun akan
berhenti sehingga pengendara lain lebih aman. Selain itu, juga untuk memberikan
indikator pada pengendara contoh lampu tanda belok kanan atau kiri sudah
menyala, kondisi bahan bakar masih banyak atau sudah habis dan lain-lain,
disamping itu juga untuk menambah kenikmatan saat berkendara.
B.
Komponen Sistem Penerangan
Sistem penerangan merupakan suatu instalasi maka dari itu
sistem ini tidak berdiri hanya dengan satu komponen melainkan suatu susunan
berbagai komponen yang dirangkai sesuai fungsi setiap komponen. Komponen utama
dalam sistem penerangan meliputi:
1. Baterai
Baterai berfungsi sebagai sumber arus
searah DC (Dirrect Current) pada
sistem kelistrikan otomotif. Umumnya baterai yang digunakan sebagai sumber
tenaga pada sistem kelistrikan otomotif mempunyai tegangan 12 Volt dan
kapasitasnya berkisar 40–70 AH (Ampere
Hour).
Baterai mempunyai 2 kutub, yaitu kutub
(+) dan kutub (-). Kutub (+) diberi kode 30 dankutub (-) atau minus diberi kode
31.
2.
Sekring (Fuse)
Sekring adalah suatu komponen
kelistrikan yang berfungsi untuk membatasi beban arus yang berlebihan. Selain
itu, untuk menghindari terjadinya kerusakan pada rangkaian saat terjadi
konsleting atau hubungan singkat. Dengan adanya sekring (fuse) rangkaian kelistrikan, bola lampu, kabelkabel, relay, fleser, dan yang lainnya tidak
akan rusak bila terjadi kelebihan arus atau terjadi hubungan singkat karena
sekring akan putus terlebih dahulu.
Jenis sekring ada bermacam-macam, baik bentuk (konstruksi)
maupun jenis filamennya.
Dalam Penggunaan bola lampu dan sekring
pada satu unit kendaraan bermotor (mobil), pada saat lampu kota atau posisi
dinyalakan, jumlah daya lampu yang diperlukan adalah:
Nama Komponen
Daya Lampu
. .4 buah bola lampu kota
. .2 buah bola lampu plat
Nomor
. .2 buah bola lampu instrument
. .4 X 8 Watt = 32 Watt
. .2 X 3 Watt = 6 Watt
. .2 X 3 Watt = 6 Watt
Sekring yang terpasang untuk lampu kota
(Tail Fuse) adalah 1,5 X daya lampu
(1,5 X 44 Watt = 66 Watt). Kebutuhan sekring yang ada di pasaran adalah 10
Amper, maka pemilihan sekring yang tepat adalah 10 Ampere.
3. Kunci Kontak (Switch)
Kelistrikan otomotif pada mobil
menggunakan kunci kontak (Ignition Swtch)
sebagai saklar utama yang menghubungkan semua sistem kelistrikan dengan sumber
tenaga (baterai).
Kunci kontak mempunyai beberapa posisi, yaitu ;
Off : terputus dari sumber tegangan (baterai)
ACC
: terhubung dengan arus
baterai, tetapi hanya untuk kebutuhan Aksesoris
ON / IG : terhubung ke sistem pengapian (Ignition )
START : untuk start
4. Saklar Kombinasi
Saklar kombinasi yaitu saklar yang
mengendalikan instalasi penerangan dan tanda pada kendaraan bermotor. Instalasi
tersebut adalah:
a.Kelompok
lampu kota, tail lamp, plat nomor, dan iluminasi.
b.Kelompok
lampu kepala, blitz, dan indikator lampu jauh.
c.Kelompok lampu hazard, sein, dan indikator lampu
sein.
d.Klakson.
e.Wiper
dan Washer.
5. Relay
Relay adalah saklar elektrik yang
digunakan untuk memutus dan menghubungkan arus secara elektrik. Cara kerjanya,
bila dialiri arus listrik, kumparan akan menjadi magnet sehingga kontak poin
tertarik dan terhubung
Macam macam Relay:
a.Relay
4 Kaki Normaly Open.
b.Relay
4 Kaki Normaly Closed.
c.Relay
Double Throw.
6.
Flasher Unit
Flasher Unit digunakan untuk mengedipkan lampu tanda belok
dan lampu hazard secara interval. Flasher nit ada dua jenis yaitu: a. Jenis
Electronic
Flasher ini terbuat dari rangkaian electronic /
semiconductor.
b.
Jenis Bimetal
7.
Kabel Penghubung
Kabel berfungsi untuk menghubungkan antar komponen dan
mengalirkan arus listrik. Adapun warna kabel ditunjukkan dengan kode huruf: B =
Black (hitam) GR = Gray (abu-abu) BR = Brown (coklat)
O=
Orange (oranye) R = Red (merah) V =
Violet (ungu)
P=
Pink (merah muda) L = Blue (biru) LG = Ligth Green (hijau muda)
G
= Green (hijau) W = White
(putih) Y = Yellow (kuning)
Sedangkan Massa dalam sistem
penerangan berfungsi untuk menghubungkan antar komponen dengan negatif baterai.
Untuk konektor di gunakan untuk menghubungkan kelistrikan antara dua jaringan
kabel, atau antara sebuah jaringan kabel dengan komponen.conector di
klasifikasikan salam conector laki-laki dan perempuan, karena bentuk
terminalnya yang berbeda. Semua conector dilihat dari ujung yang terbuka dengan
pengunci di atasnya.
Sepatu kabel adalah suatu komponen
yang digunakan untuk menghubungkan komponen satu dengan komponen yang lainnya
yang terbuat dari tembaga dan diberi isolasi supaya tidak terjadi konseleting.
Diameter kabel terdiri atas berbagai ukuran. Penggunaan kabel berbedabeda
ukurannya, bergantung pada berapa besar arus yang mengalir. Bila arus yang
mengalir besar, berarti harus menggunakan kabel yang berdiameter besar, tetapi
bila arus yang mengalir kecil, cukup menggunakan kabel yang berdiameter kecil.
Sistem Pengapian Konvensional : Pengertian, Fungsi, Komponen dan Cara Kerja– Motor bakar merupakan motor yang menghasilkan tenaga melalui proses pembakaran campuran udara dan bahan bakar di dalam cylinder (ruang bakar). Berdasarkan jenis bahan bakarnya, motor bakar khususnya mobil dibedakan menjadi dua yaitumesin bensin dan mesin diesel.
Pada mesin bensin, pada akhir langkah kompresi dibutuhkan percikan bunga api untuk membakar campuran udara dan bahan bakar yang telah dikompresi tadi. Sehingga akan terjadi langkah usaha yang menghasilkan tenaga untuk menggerakkan mobil.
Sebuah sistem yang menyediakan percikan bunga api dalam ruang bakar ini disebut sebagai sistem pengapian. Percikan atau loncatan bunga api akan terjadi pada ujung elektroda pada busi, bunga api ini dapat terjadi apabila tegangan yang melawatinya cukup tinggi. Untuk itu diperlukan ignition coil (koil pengapian) untuk menaikkan tegangan baterai (12 volt) menjadi 10k volt.
Tegangan yang telah dinaikkan akan disalurkan/dibagi ke masing-masing silinder oleh distributor melalui kabel busi (kabel tegangan tinggi). Seiring perkembangan teknologi, sistem pengapian ini terus berkembang dengan kecanggihan dan kefektifannya.
Ada sistem pengapian elektronik yang menggunakan transistor, CDI dan lain-lain, komponennya pun juga mengalami perkembangan. Misal saja pada sistem pengapian konvensional menggunakan satu ignition coil untuk 4 silinder, namun pada mobil-mobil sekarang terdapat satu ignition coil untuk satu silinder, atau satu inginiton coil untuk 2 silinder.
Sebelum memahami sistem pengapian elektronik, kita akan mempelajari terlebih dahulu mengenai sistem pengapian konvensional. Kita akan mempelajari mulai dari pengertian sistem pengapian, fungsi sistem pengapian, komponen-komponennya dan cara kerja sistem pengapian konvensional.
Tapi sebelum itu semua, bantu website ini dengan like fanspage dan subcribe channel YouTube bisaotomotif.com yaa.. Terimakasih !!
Pengertian Sistem Pengapian Konvensional
Pengertian ke 1 :
Sistem pengapian konvensional adalah sebuah sistem pada kendaraan bermotor yang berfungsi untuk membangkitkan tegangan baterai (12 volt) menjadi tegangan tinggi (10k volt) yang kemudian disalurkan ke masing-masing silinder sehingga menghasilkan loncatan bunga api pada busi yang dibutuhkan untuk proses pembakaran.
Pengertian ke 2 :
Sistem pengapian konvensional adalah sebuah sistem yang berfungsi untuk menyediakan loncatan bunga api pada busi dengan cara menaikkan tegangan baterai menjadi tegangan tinggi (pada coil) dengan bantuan platina (breaker point) untuk memutuskan arus primer (arus dari baterai).
Fungsi Sistem Pengapian
Sistem pengapian konvensionel memiliki beberapa fungsi utama yaitu :
1. Menyediakan loncatan bunga api pada busi dalam waktu yang tepat untuk membakar campuran udara dan bahan bakar.
2. Agar terjadi loncatan bunga api, maka tegangan harus tinggi. Sehingga sistem pengapian juga berfungsi untuk menaikkan tegangan baterai menjadi tegangan tinggi pada coil melalui hubung singkat arus primer oleh breaker point (platina).
Komponen-komponen Sistem Pengapian Konvensional + Fungsinya
Sistem pengapian konvensional memiliki beberapa komponen utama, yang membedakan komponen sistem pangapian konvensional dan elektronik adalah pada pemutusan arus primernya. Pemutusan arus primer ini bertujuan agar pada ignition coil terjadi induksi tegangan tinggi.
Pada pengapian konvensional pemutusan arus primer dilakukan oleh breaker point (platina), sementara pada pengapian elektronik dilakukan oleh transistor maupun CDI (Capasitor Dicharge Igntiton).
Okee, berikut adalah komponen-komponen sistem pengapian beserta fungsinya :
Komponen sistem pengapian konvensional
1. Baterai
Dalam sistem pengapian baterai ini berfungsi untuk menyediakan arus listrik voltase rendah (12 volt) untuk ignition coil. Selain menjadi komponen sistem pengapian, baterai juga berfungsi untuk mensuplay kebutuhan kelistrikan pada saat mesin belum hidup, komponen yang disuplay antara lain sistem pengisian, klakson, sistem starter dan komponen kelistrikan bodi yang lain.
2. Ignition coil
Berfungsi untuk menaikkan tegangan baterai (12) menjadi tegangan tinggi (10KV atau lebih) yang dibutuhkan untuk pengapian (meloncatkan bunga api pada busi).
Koil pengapian terdiri dari dua kumparan yang masing-masing dililitkan pada inti besi. Kumparan pertama disebut dengan kumparan primer, dan yang kedua disebut kumparan sekunder.
Kumparan primer akan menerima arus dari baterai, yang kemudian akan diputus oleh breaker point (platina) sehingga pada kumparan sekunder terjadi induksi elektromagnetik dan membangkitkan tegangan hingga 10K volt atau lebih.
Gambar kontruksi ignition coil (koil pengapian)
Kumparan primer coil memiliki kawat tembaga yang lebih besar (0,5 – 1,0 mm) namun memiliki jumlah gulungan yang lebih sedikit dibandingkan kumparan sekunder yaitu 150 – 300 kali.
Sebaliknya, kumparan sekunder memiliki kawat tembaga dengan diameter yang lebih kecil, namun memiliki jumlah gulungan yang lebih banyak yaitu antara 15.000 – 30.000 gulungan.
3. Distributor
Gambar ilustrasi distributor pada sistem pengapian
Berfungsi untuk membagi/mendistribusikan tegangan tinggi yang telah dibangkitkan oleh ignition coil ke masing-masing silinder. Distributor terdiri dari beberapa komponen yaitu :
Komponen-komponen Distributor
a. Cam (nok)
Berfungsi untuk membuka breaker point (platina) pada sudut crankshaft (poros engkol) yang tepat untuk setiap silinder. Nok ini terhubung dengan poros distributor, dan biasanya digerakkan oleh poros nok (cam shaft)
b. Breaker point (platina)
Berfungsi untuk memutuskan arus listrik yang mengalir melalui kumparan primer pada ignition coil untuk menghasilkan arus listrik tegangan tinggi pada kumparan sekunder dengan cara induksi elektromagnet.
c. Kondensor
Berfungsi untuk menyerap loncatan bunga api yang terjadi pada platina saat membuka dengan tujuan untuk menaikkan tegangan coil sekunder.
Berfungsi memajukan saat pengapian sesuai dengan putaran mesin.
e. Vakum Advancer
Berfungsi untuk memajukan saat pengapian berdasarkan beban mesin. Bentuknya mirip seperti piringan dengan dua buah selang yang dihubungkan ke karburator dan intake manifold.
Komponen yang satu ini dipasang pada distributor, dan dihubunkan dengan backing plate atau dudukan dari platina. Sehingga ketika komponen ini aktif, dia akan menggeser backing plate yang akan mempengaruhi buka tutup platina.
Bagian vakum advancer
Keterangan gambar : 1. Plat dudukan kontak pemutus yang bergerak radial 2. Batang penarik 3. Diafragma 4. Pegas 5. Langkah maksimum 6. Sambungan slang vakum
Berfungsi membagikan arus listrik tegangan tinggi yang dihasilkan oleh ignition coil ke tiap-tiap busi.
g. Distributor Cap
Berfungsi untuk membagikan arus listrik tegangan tinggi dari rotor ke kabel tegangan tinggi untuk masing-masing busi.
4. Kabel Tegangan Tinggi (High Tension Cord)
Berfungsi untuk mengalirkan arus listrik tegangan tinggi dari ignition coil ke busi. Orang kada menyebut komponen ini sebagai kabel busi.
Kabel busi ini bisa saja mengalami masalah seperti hambatan terlalu besar atau bahkan bisa terputus. Bila hal itu terjadi maka pengapian yang dihasilkan tidak maksimal.
Fungsi Busi adalah untuk menghasilkan loncatan bunga api melalui elektrodanya. Atau mengeluarkan arus listrik tegangan tinggi menjadi loncata bunga api pada elektrodanya. Nama lain dari busi adalah spark plug.
Cara kerja sistem pengapian konvensional di bawah ini di bagi menjadi dua bagian yaitu pada saat platina membuka dan pada saat platina menutup.
Cara kerja ini juga mengilustrasikan bagaimana arus listrik dari baterai 12 volt yang kemudian dibangkitkan menjadi 10k volt yang terjadi pada kumparan sekunder ignition coil dan kemudian disalurkan ke-busi melalui kabel busi.
1. Saat Kontak Platina Menutup
Cara kerja sistem pengapian konvensional saat platina menutup
Ilustrasi di atas adalah cara kerja sistem pengapian pada saat kontak platina menutup. Pada saat ini aliran arus dari baterai akan mengalir ke kunci kontak, kumparan primer coil, menuju ke platina dan ke massa. Lihat aliran arus pada garis berwarna merah.
Karena kumparan primer pada ignition coil dialiri arus, maka akan terjadi kemagnetan pada kumparan tersebut.
2. Saat Kontak Platina Membuka
Cara kerja sistem pengapian konvensional saat platina membuka
Ketika nok distributor berputar kemudian membuka kontak platina, maka arus primer (arus yang mengalir pada kumparan primer coil) akan terputus secara tiba-tiba. Pemutusan arus ini akan mengakibatkan indusi elektromagnetik pada kumparan sekunder coil. Tegangan akan dibangkitkan menjadi 10k volt atau lebih.
Arus yang telah dibangkitkan di kumparan sekunder coil ini akan dialirkan ke rotor dan di distribusikan ke masing-masing busi. Busi yang teraliri arus tegangan tinggi akan terjadi loncatan bunga api untuk membakar campuran udara dan bahan bakar.
Kontak platina yang membuka dan menutup akan menghasilkan percikan juga pada kontak platina, percikan ini akan merugikan tegangan dan membuat kontak platina lebih cepat aus.
Merugikan tegangan karena pemutusan arus primer akan terhambat akibat percikan api. Untuk itulah ada kondensor yang akan menyerap tegangan dan menyimpannya, sehingga loncatan bunga api pada platina dapat diminimalisisr.
Pada regulator pengisian mobil terdapat beberapa terminal. Oleh karena
itu dibutuhkan cara untuk tentukan terminal-terminal pada regulator sistem
pengisian pada mobil. Lalu bagaimana cara identifikasi terminal regulator
pengisian mobil?
Untuk cara identifikasi atau menemukan terminal regulator pada sistem
pengisian mobil ada 2 cara yang bisa dipakai yakni Secara visual tanpa alat
ukur dan dengan cara memakai alat ukur Ohmmeter.
Untuk lebih jelasnya berikut merupakan ulasan terkait dua cara yang
dapat digunakan untuk identifikasi terminal pada regulator pengisian mobil.
Cara
Identifikasi Terminal Regulator Pengisian Mobil
A.Identifikasi Terminal
Regulator Secara Visual
Cara identifikasi terminal regulator ini
cukup melihat ciri khusus secara visual terkait terminal terminal pada
regulator pengisian mobil yaitu:
1.Menemukan Terminal E
Balik Status regulator jika kelihatan kabel
terminal langsung di solder (digabungkan) dengan bodi regulator, karena itu
terminal itu ialah terminal E.
2.Menemukan Terminal IG dan F
Membuka tutup regulator, Terminal IG dan F
ialah Yang digabungkan dengan tahanan atau resistor, Dikeling dengan poin
holder yang jika diurutkan akan berjumpa pokok pada belitan Voltage regulator
karena itu terminal tesebut ialah terminal IG, hingga seca langsung kita bisa
dapatkan terminal yang satunya ialah terminal F
3.Menemukan Terminal B
Saksikan platina samping yang terpisah (tidak sama-sama
mendekat) pada Voltage relay, Balik status regulator dan mencari kabel yang
diurutkan dengan platina barusan.
4.Menemukan Terminal L dan N
Terminal
L dan N ialah terminal yang disambungkan dengan kumparan,
Terminal N ialah terminal yang langsung keluar dari kumparan, sedang terminal L
ialah selain berjumpa dengan kumparan digabungkan dengan poin holder platina
tengah.
B.
Identifikasi Terminal Regulator Dengan Alat Ukur (Ohm Meter)
Selain secara visual, cara mengenali terminal
regulator pada mobil dapat menggunakan alat ukur seperti multitester atau ohm
meter.
1. Menemukan Terminal E
Tempatkan
salah satunya kabel ohm mtr. ke bodi regulator. Ujung yang lain ditempatkan ke
semua terminal secara berganti-gantian, jika jarum memperlihatkan NOL
disebutkan terminal E.
Catatan
:
Platina voltage relay di penyekat dengan isolator (kertas atau karet) terlebih
dulu agar tidak ada sama-sama mendekat.
2. Menemukan Terminal N
Sambungkan
terminal E, yang satu keseluruh terminal.
Jika tahanan ± 23 Ω ( tahanan lebih kecil dibanding terminal L) disebutkan
terminal N.
3. Menemukan Terminal L
Sambungkan
terminal E, yang satu keseluruh terminal.
Jika tahanan ± 100 Ω (Tahanan semakin besar dari terminal N) disebutkan
terminal L.
4. Menemukan Terminal B
Jika
berjumpa dengan kabel yang tidak punyai jalinan dengan terminal lain disebutkan
terminal B.
5. Menemukan Terminal IG
Satu
kabel ke platina sisi tengah dari voltage regulator. Ujung lainnya disambungkan
ke terminal-terminal regulator.
Jika tahanan ± 11 Ω disebutkan terminal IG atau terminal yang benjolannya
berupa bintang atau terminal yang mendapat pokok pada voltage regulator
(tentukan salah satunya cara)
6. Menemukan Terminal F
Karena
ke-5 terminal telah bertemu, automatis terminal paling akhir yakni terminal F.
C.
Identifikasi Terminal Regulator Dengan Warna Kabel
Cara paling mudah untuk menemukan
terminal regulator pengisian mobil yaitu dengan melihat warna kabel yaitu
1.IG memiliki warna kabel putih strip merah
2.N memiliki warna kabel putih strip biru
3.F memiliki warna kabel putih strip hijau
4.E memiliki warna kabel putih strip hitam
5.L memiliki warna kabel kuning strip putih
6.B memiliki warna kabel putih
Diatas
adalah cara identifikasi terminal regulator pengisian pada mobil. Semoga dapat
menambah wawasan pengetahuan.