Selasa, 15 Februari 2022

Modul pemeliharaan dan servis sistem AC (Air Condotioner)

   Dalam menyervis sistem AC (Air Conditioner) dibutuhkan ketelitian dan di anjurkan mengikuti intruksi yang sesuai standar kerja untuk tujuan mendapatkan hasil yang optimal




Perawatan pada sistem AC (Air Conditioner) tentunya sangat di perlukan agar mengetahui sistem ini masih normal untuk pemakaian atau perlu di servis, pengecekan rutin pada sistem juga mempengaruhi waktu tempuh pemakaian dan memperpanjang usia komponen. BAB ini saya akan membahas tentang tata cara servis sistem AC, dengan menggunakan bahasa kalimat yang praktis agar mempermudah dalam pemahaman. Tentu juga BAB ini tetap berhubungan dengan BAB yang sebelumnya.


SERVIS/REPAIR AC MOBIL

A. Tujuan kegiatan

1. Calon praktikum dapat menyebutkan ciri-ciri siklus pendinginan yang tidak normal, penyebab dan pemecahan masalah
2. Dapat membongkar, memperbaiki/mengganti kerusakan san memasang kembali komponen
3. Dapat mengetes kemungkinan kebocoran yang terjadi pada rangkaian sistem AC
4. Dapat menguji kemampuan sistem AC

B. Uraian pembahasan

1. Ciri-ciri siklus pendingin tidak normal, penyebab dan pemecahan
- Refrigerant kurang
     Pada kondisi ini, terlihat gejala sebagai berikut:
 Udara yang keluar dari sistem pendingin tidak terlalu dingin
• Pada kaca pengintai terlihat banyak gelembung
• Pemeriksaan pada manifold gauge:
     Pengukur tekanan rendah : 0,8 kg/cm" (11psi, 78kpa) 
     Pengukur tekanan tinggi : 8-0 kg/cm" (114psi, 882kpa)

    Kemungkinan penyebabnya :
     Terdapat kebocoran pada siklus pendingin

     Pemecahannya :
     Periksa kebocoran dengan menggunakan detector kebocoran dan perbaiki

2. Pengisian Refrigerant berlebihan
     Pada kondisi ini, terlihat gejala sebagai berikut :
 Pendinginan tidak maksimum
• Pemeriksaan pada Manifold Gauge :
     Pengukur tekanan rendah : 2,5 kg/cm" (36psi, 245kpa) 
     Pengukur tekanan tinggi : 20 kg/cm"(248psi, 1.961kpa)

     Kemungkinan penyebabnya :
- Dalam pengisian refrigerant terlalu berlebihan
- Kondenser tidak bekerja secara optimal
- Terjadi slip pada kopling fluida kipas radiator
- Tali kipas kompresor kendor

     Pemecahannya :
- Kurangi jumlah refrigerant yang terlalu berlebihan
- Bersihkan kondenser
- Periksa kopling fluida kipas radiator, ganti bila rusak
- Stel tali kipas (fanbelt) 

3. Terdapat udara di dalam siklus
     Pada kondisi ini terlihat gejala sebagai berikut :

• AC tidak terlalu dingin
• Pemeriksaan pada Manifold Gauge :
     Pengukur tekanan rendah : 2,5 kg/cm" (36psi, 245kpa) 
     Pengukur tekanan tinggi : 23 kg/cm" (327psi, 2.256kpa)

     Kemungkinan penyebabnya :
- Ada udara di dalam siklus pendingin

     Pemecahannya :
- Periksa kotoran oli dan jumlahnya
- Bila oli berwarna hitam (kotor), bersihkan dengan minyak tanah dan semprot dengan kompresor angin
- Lakukan penyedotan kevakumam kembali
- Ganti Receiver

4. Terdapat uap air di dalam siklus
      Pada kondisi ini terlihat gejala sebagai berikut :

• Suhu yang di hasilkan sistem pendingin kadang dingin kadang tidak
• Pemeriksaan pada Manifold Gauge :
     Pengukur tekanan rendah : 50cmHg (1,5kg/cm")
      Pengukur tekanan tinggi : 7-5 kg/cm"

     Kemungkinan penyebabnya :
- Pada Expansion Valve terjadi penyumbatan oleh gumpalan es

      Pemecahannya :
- Ganti receiver/Dryer
- Lakukan pemompaan kevakumam, untuk membuang uap air
- Perhatikan jumlah refrigerant yang sesuai dalam pengisian

5. Refrigerant tidak bersikulasi
      Pada kondisi ini terlihat gejala sebagai berikut :

• Suhu AC tidak dingin
• Pemeriksaan pada Manifold Gauge :
     Pengukur tekanan rendah : 76 cmHg (sangat rendah) 
     Pengukur tekanan tinggi : 6kg/cm" (85psi, 588kpa) 

     Kemungkinan penyebabnya :
- Pada Expansion Valve terjadi penyumbatan

     Pemecahannya :
- Lepas Expansion Valve, bersihkan dan tes, jika sudah rusak maka di ganti
- Ganti Receiver
- Perhatikan jumlah refrigerant yang sesuai dengan pengisian

6. Expansion Valve tidak bekerja dengan baik
     Pada kondisi ini terlihat gejala sebagai berikut :

• AC kurang dingin
• Pemeriksaan pada Manifold Gauge :
     Pengukur tekanan rendah : 2,5 kg/cm" (36psi, 245kpa) 
     Pengukur tekanan tinggi : 19-20 kg/cm" (70-264psi/1.863 -- 1.961kpa)

     Kemungkinan penyebabnya :
- Expansion Valve rusak atau pemasangan Heat Senzitizing salah
- Penyetelan aliran tidak baik
- Pada Evaporator terlau banyak refrigerant dalam bentuk cair

      Pemecahannya :
- Periksa pemasangan Heat Senzitizing
- Pemeriksaan Expansion Valve,  jika rusak maka di ganti

7. Tidak ada kompresi pada kompresor
     Pada kondisi ini terlihat gejala sebagai berikut :

• AC tidak dingin
• Pemeriksaan pada Manifold Gauge :
      Pengukur tekanan rendah : terlalu tinggi
     Pengukur tekanan tinggi : terlalu rendah

     Kemungkinan penyebabnya :
- Kompresor rusak
- Katup kompresor bocor atau rusak

     Pemecahannya :
- Bongkar kompresor dan perbaiki atau ganti bagian yang rusak
- Mengganti kompresor dengan tipe dan kapasitas yang sama



      Banyak permasalahan yang memungkinkan penyebab sistem pendinginan pada mobil menjadi tidak optimal pada cara kerja dari sistem komponen pendingin sendiri.  Hanya saja penjelasan di atas adalah sebab sebab masalah pada sistem AC (Air Conditioner) yang umum terjadi.

Demikian uraian artikel versi saya tentang pemeliharaan dan servis sistem AC (Air Conditioner)  mobil, jika ada sedikit banyaknya kesalahan dalam penulisan paragraf, saya mohon maaf atas kesalahan. Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membantu bagi pembaca untuk menambah ilmu dan wawasan, dan semoga SUKSES.

Jumat, 07 Januari 2022

Sistem Penerangan Dalam

 

Sistem Penerangan Dalam

a.       Lampu ruangan (dome light)

Lampu ruangan atau lampu kabin berfungsi untuk menerangi interior ruangan penumpang yang dirancang agar tidak menyilaukan pengemudi pada malam hari. Umumnya lampu ruangan (interior) letaknya di bagian tengah ruang penumpang kendaraan untuk menerangi interior dengan merata. Lampu ini disatukan dengan switchnya yang mempunyai 3 (tiga) p osisi yaitu : ON, DOOR dan OFF. (untuk memberi kemudahan keluar masuk pada malam hari, lampu ruangan dapat disetel hanya menyala bila salah satu pintunya dibuka. Ini dapat dilakukan dengan menyetel switch pada posisi DOOR.





b.       Lampu Instrumen Panel (lampu meter).

Lampu instrumen panel terpasang pada bagian dashboard digunakan untuk menerangi meter-meter pada instrumen panel pada malam hari dan memungkinkan pengemudi membaca meter-meter dan gauge dengan mudah dan cepat pada saat mengemudi. Lampu instrumen panel akan menyala bila lampu belakang (tail light) menyala. Ada beberapa model yang dilengkapi dengan lampu pengontrol rheostat yang memungkinkan  pengendara mengontrol terangnya lampu-lampu pada instrumen panel.

Rabu, 05 Januari 2022

Jenis Penerangan

 

Dalam sistem penerangan terdapat banyak jenis rangkaian, hal tersebut bertujuan membuat instalasi penerangan yang selaian aman dan nyaman bagi pengemudi. Pada dasarnya sistem penerangan terdapat dua jenis yaitu sistem penerangan luar dan sistem penerangan dalam, untuk lebih jelas sebagai berikut:

        1.       Sistem Penerangan Luar

a.       Lampu Kota

Lampu kota adalah lampu yang berfungsi pada siang hari bertujuan untuk memberikan isyarat kepada pengendara lainya. Untuk lebih jelasnya perhatikan wiring diagram di bawah ini:




b.       Lampu Kepala

Lampu kepala atau lampu utama merupakan lampu yang wajib terpasang pada jenis kendaraan manapun. Untuk saat ini lampu kepala tidak hanya digunakan pada malam hari sebagai penerangan peraturan lalu lintas yang baru lampu utama harus menyala baik pada siang hari atau malam hari. Hal tersebut bertujuan untuk keamanan saat berkendaran dan keamanan baik pengemudi atau pengendara yang lain. Lebih jelasnya perhatikan wiring diagram di bawah ini:


c.       Lampu Sein dan Hazard

Jenis lampu ini biasanya dinakan lampu tanda belok atau lampu peringatan tanda bahaya. Lampu Sein dan Hazard wajib terpasang di setiap kendaraan karena jenis lampu ini bertujuan memberikan peringata ketika pengendara sedang berbelok ke kanan atau ke kiri, bahkan untuk jenis lampu hazard memberikan tanda bahaya untuk pengendara di belakang. Untuk lebih jelasnya perhatikan wiring diagram di bawah ini:




Gambar 6.10 Wiring Diagram Lampu Sein dan Hazard

d.       Lampu Mundur

Lampu mundur merupakan lampu untuk memberikan isyrat bahwa mobil dalam keadaan ingin mundur. Lampu mundur secara otomatis menyala ketika pengendara mengganti pada posisi (R) pada perpindahan gigi atau perseneling. Untuk lebih jelasnya perhatikan wiring diagram di bawah ini:




e.       Lampu Rem 

Lampu rem akan berfungsi secara otomatis apabila pengendara mengijak pedal rem, hal tersebut bertukuan untuk memberi peringatan bagi pengendara lain kalau sedang dalam mengurangi kecepatan sehingga akan menghidari dari tabrakan. Untuk lebih jelasnya perhatikan wiring diagram sebagai berikut:

 



Dari rangakain instalasi penerangan diatas pada dasarnya memiliki fungsi masing-masing selain sebagai penerangan rangkaian tersebut sebagai tanda atau peringatan bagi pengendara lain supaya bisa berhati-hati di jalan. Untuk lebih jelasnya apabila rangkaian keseluruahan dari sistem penerangan.



Sistem Penerangan Dalam

a.       Lampu ruangan (dome light)

Lampu ruangan atau lampu kabin berfungsi untuk menerangi interior ruangan penumpang yang dirancang agar tidak menyilaukan pengemudi pada malam hari. Umumnya lampu ruangan (interior) letaknya di bagian tengah ruang penumpang kendaraan untuk menerangi interior dengan merata. Lampu ini disatukan dengan switchnya yang mempunyai 3 (tiga) p osisi yaitu : ON, DOOR dan OFF. (untuk memberi kemudahan keluar masuk pada malam hari, lampu ruangan dapat disetel hanya menyala bila salah satu pintunya dibuka. Ini dapat dilakukan dengan menyetel switch pada posisi DOOR.



b       Lampu Instrumen Panel (lampu meter).

Lampu instrumen panel terpasang pada bagian dashboard digunakan untuk menerangi meter-meter pada instrumen panel pada malam hari dan memungkinkan pengemudi membaca meter-meter dan gauge dengan mudah dan cepat pada saat mengemudi. Lampu instrumen panel akan menyala bila lampu belakang (tail light) menyala. Ada beberapa model yang dilengkapi dengan lampu pengontrol rheostat yang memungkinkan  pengendara mengontrol terangnya lampu-lampu pada instrumen panel.


Komponen Sistem Penerangan

 

A. Sistem Penerangan

Pada materi kelistrikan akan mengurai secara mendalam terkait sistem penerangan dan panel instrumen pada mobil. Sistem penerangan adalah intalasi dari berbagai rangkaian penerangan pada kendaraan atau semua sistem kelistrikan pada bodi kendaraan yang bertujuan untuk menjamin keamanan dan kenyamanan saat berkendara.

Tujuan utama sistem penerangan secara umum sebagai pencahayaan saat pagi atau malam hari, akan tetapi menurut fungsi sistem penerangan adalah sebagai penerangan pada kendaraan untuk memberikan tanda-tanda kepada pengendara lain misalnya pada saat akan membelok maupun akan berhenti sehingga pengendara lain lebih aman. Selain itu, juga untuk memberikan indikator pada pengendara contoh lampu tanda belok kanan atau kiri sudah menyala, kondisi bahan bakar masih banyak atau sudah habis dan lain-lain, disamping itu juga untuk menambah kenikmatan saat berkendara.

B.        Komponen Sistem Penerangan

Sistem penerangan merupakan suatu instalasi maka dari itu sistem ini tidak berdiri hanya dengan satu komponen melainkan suatu susunan berbagai komponen yang dirangkai sesuai fungsi setiap komponen. Komponen utama dalam sistem penerangan meliputi:

        1.     Baterai

Baterai berfungsi sebagai sumber arus searah DC (Dirrect Current) pada sistem kelistrikan otomotif. Umumnya baterai yang digunakan sebagai sumber tenaga pada sistem kelistrikan otomotif mempunyai tegangan 12 Volt dan kapasitasnya berkisar 40–70 AH (Ampere Hour).

Baterai mempunyai 2 kutub, yaitu kutub (+) dan kutub (-). Kutub (+) diberi kode 30 dankutub (-) atau minus diberi kode 31.




2. Sekring (Fuse)

Sekring adalah suatu komponen kelistrikan yang berfungsi untuk membatasi beban arus yang berlebihan. Selain itu, untuk menghindari terjadinya kerusakan pada rangkaian saat terjadi konsleting atau hubungan singkat. Dengan adanya sekring (fuse) rangkaian kelistrikan, bola lampu, kabelkabel, relay, fleser, dan yang lainnya tidak akan rusak bila terjadi kelebihan arus atau terjadi hubungan singkat karena sekring akan putus terlebih dahulu.

Jenis sekring ada bermacam-macam, baik bentuk (konstruksi) maupun jenis filamennya.





Dalam Penggunaan bola lampu dan sekring pada satu unit kendaraan bermotor (mobil), pada saat lampu kota atau posisi dinyalakan, jumlah daya lampu yang diperlukan adalah:

Nama Komponen

Daya Lampu

. .4 buah bola lampu kota

. .2 buah bola lampu plat

Nomor

. .2 buah bola lampu instrument

. .4 X 8 Watt = 32 Watt

. .2 X 3 Watt = 6 Watt

. .2 X 3 Watt = 6 Watt

Sekring yang terpasang untuk lampu kota (Tail Fuse) adalah 1,5 X daya lampu (1,5 X 44 Watt = 66 Watt). Kebutuhan sekring yang ada di pasaran adalah 10 Amper, maka pemilihan sekring yang tepat adalah 10 Ampere.

                     3.      Kunci Kontak (Switch)

Kelistrikan otomotif pada mobil menggunakan kunci kontak (Ignition Swtch) sebagai saklar utama yang menghubungkan semua sistem kelistrikan dengan sumber tenaga (baterai).





Kunci kontak mempunyai beberapa posisi, yaitu ;

                              Off             :  terputus dari sumber tegangan (baterai)

ACC            : terhubung dengan arus baterai, tetapi hanya untuk kebutuhan Aksesoris

ON / IG : terhubung ke sistem pengapian (Ignition ) START  : untuk start

         4.       Saklar Kombinasi

Saklar kombinasi yaitu saklar yang mengendalikan instalasi penerangan dan tanda pada kendaraan bermotor. Instalasi tersebut adalah:

a.       Kelompok lampu kota, tail lamp, plat nomor, dan iluminasi.

b.       Kelompok lampu kepala, blitz, dan indikator lampu jauh.

c.        Kelompok lampu hazard, sein, dan indikator lampu sein.

d.       Klakson.

e.       Wiper dan Washer.

  


         5.     Relay

Relay adalah saklar elektrik yang digunakan untuk memutus dan menghubungkan arus secara elektrik. Cara kerjanya, bila dialiri arus listrik, kumparan akan menjadi magnet sehingga kontak poin tertarik dan terhubung

 


Macam macam Relay:

a.       Relay 4 Kaki Normaly Open.

b.       Relay 4 Kaki Normaly Closed.

c.        Relay Double Throw.



6.         Flasher Unit

Flasher Unit digunakan untuk mengedipkan lampu tanda belok dan lampu hazard secara interval. Flasher nit ada dua jenis yaitu: a. Jenis Electronic

Flasher ini terbuat dari rangkaian electronic / semiconductor.

                             b.       Jenis Bimetal

  


            

7.   Kabel Penghubung

Kabel berfungsi untuk menghubungkan antar komponen dan mengalirkan arus listrik. Adapun warna kabel ditunjukkan dengan kode huruf: B = Black (hitam)  GR = Gray (abu-abu)  BR = Brown (coklat)

O  = Orange (oranye)  R = Red (merah)   V = Violet (ungu)

P   = Pink (merah muda) L = Blue (biru)     LG = Ligth Green (hijau muda)

                              G = Green (hijau)                  W = White (putih)               Y = Yellow (kuning)

Sedangkan Massa dalam sistem penerangan berfungsi untuk menghubungkan antar komponen dengan negatif baterai. Untuk konektor di gunakan untuk menghubungkan kelistrikan antara dua jaringan kabel, atau antara sebuah jaringan kabel dengan komponen.conector di klasifikasikan salam conector laki-laki dan perempuan, karena bentuk terminalnya yang berbeda. Semua conector dilihat dari ujung yang terbuka dengan pengunci di atasnya.

Sepatu kabel adalah suatu komponen yang digunakan untuk menghubungkan komponen satu dengan komponen yang lainnya yang terbuat dari tembaga dan diberi isolasi supaya tidak terjadi konseleting. Diameter kabel terdiri atas berbagai ukuran. Penggunaan kabel berbedabeda ukurannya, bergantung pada berapa besar arus yang mengalir. Bila arus yang mengalir besar, berarti harus menggunakan kabel yang berdiameter besar, tetapi bila arus yang mengalir kecil, cukup menggunakan kabel yang berdiameter kecil.









Selasa, 19 Oktober 2021

Sistem Pengapian Konvensional: Pengertian, Fungsi, Komponen dan Cara Kerja


 


Sistem Pengapian Konvensional : Pengertian, Fungsi, Komponen dan Cara Kerja – Motor bakar merupakan motor yang menghasilkan tenaga melalui proses pembakaran campuran udara dan bahan bakar di dalam cylinder (ruang bakar). Berdasarkan jenis bahan bakarnya, motor bakar khususnya mobil dibedakan menjadi dua yaitu mesin bensin dan mesin diesel.

Pada mesin bensin, pada akhir langkah kompresi dibutuhkan percikan bunga api untuk membakar campuran udara dan bahan bakar yang telah dikompresi tadi. Sehingga akan terjadi langkah usaha yang menghasilkan tenaga untuk menggerakkan mobil.

Lihat selengkapnya tentang siklus kerja motor dalam artikel : Cara Kerja Motor 4 Langkah (Tak).

Sebuah sistem yang menyediakan percikan bunga api dalam ruang bakar ini disebut sebagai sistem pengapian. Percikan atau loncatan bunga api akan terjadi pada ujung elektroda pada busi, bunga api ini dapat terjadi apabila tegangan yang melawatinya cukup tinggi. Untuk itu diperlukan ignition coil (koil pengapian) untuk menaikkan tegangan baterai (12 volt) menjadi 10k volt.

Tegangan yang telah dinaikkan akan disalurkan/dibagi ke masing-masing silinder oleh distributor melalui kabel busi (kabel tegangan tinggi). Seiring perkembangan teknologi, sistem pengapian ini terus berkembang dengan kecanggihan dan kefektifannya.

Ada sistem pengapian elektronik yang menggunakan transistor, CDI dan lain-lain, komponennya pun juga mengalami perkembangan. Misal saja pada sistem pengapian konvensional menggunakan satu ignition coil untuk 4 silinder, namun pada mobil-mobil sekarang terdapat satu ignition coil untuk satu silinder, atau satu inginiton coil untuk 2 silinder.

Sebelum memahami sistem pengapian elektronik, kita akan mempelajari terlebih dahulu mengenai sistem pengapian konvensional. Kita akan mempelajari mulai dari pengertian sistem pengapian, fungsi sistem pengapian, komponen-komponennya dan cara kerja sistem pengapian konvensional.

Tapi sebelum itu semua, bantu website ini dengan like fanspage dan subcribe channel YouTube bisaotomotif.com yaa.. Terimakasih !!  

Pengertian Sistem Pengapian Konvensional 

Pengertian ke 1 :

Sistem pengapian konvensional adalah sebuah sistem pada kendaraan bermotor yang berfungsi untuk membangkitkan tegangan baterai (12 volt) menjadi tegangan tinggi (10k volt) yang kemudian disalurkan ke masing-masing silinder sehingga menghasilkan loncatan bunga api pada busi yang dibutuhkan untuk proses pembakaran.

Pengertian ke 2 :

Sistem pengapian konvensional adalah sebuah sistem yang berfungsi untuk menyediakan loncatan bunga api pada busi dengan cara menaikkan tegangan baterai menjadi tegangan tinggi (pada coil) dengan bantuan platina (breaker point) untuk memutuskan arus primer (arus dari baterai).

Fungsi Sistem Pengapian

Sistem pengapian konvensionel memiliki beberapa fungsi utama yaitu :

1. Menyediakan loncatan bunga api pada busi dalam waktu yang tepat untuk membakar campuran udara dan bahan bakar.

2. Agar terjadi loncatan bunga api, maka tegangan harus tinggi. Sehingga sistem pengapian juga berfungsi untuk menaikkan tegangan baterai menjadi tegangan tinggi pada coil melalui hubung singkat arus primer oleh breaker point (platina).

Komponen-komponen Sistem Pengapian Konvensional + Fungsinya

Sistem pengapian konvensional memiliki beberapa komponen utama, yang membedakan komponen sistem pangapian konvensional dan elektronik adalah pada pemutusan arus primernya. Pemutusan arus primer ini bertujuan agar pada ignition coil terjadi induksi tegangan tinggi.

Pada pengapian konvensional pemutusan arus primer dilakukan oleh breaker point (platina), sementara pada pengapian elektronik dilakukan oleh transistor maupun CDI (Capasitor Dicharge Igntiton).

Okee, berikut adalah komponen-komponen sistem pengapian beserta fungsinya :

Komponen sistem pengapian konvensional

Komponen sistem pengapian konvensional

1. Baterai

Dalam sistem pengapian baterai ini berfungsi untuk menyediakan arus listrik voltase rendah (12 volt) untuk ignition coil.  Selain menjadi komponen sistem pengapian, baterai juga berfungsi untuk mensuplay kebutuhan kelistrikan pada saat mesin belum hidup, komponen yang disuplay antara lain sistem pengisian, klakson, sistem starter dan komponen kelistrikan bodi yang lain.

2. Ignition coil

Berfungsi untuk menaikkan tegangan baterai (12) menjadi tegangan tinggi (10KV atau lebih) yang dibutuhkan untuk pengapian (meloncatkan bunga api pada busi).

Koil pengapian terdiri dari dua kumparan yang masing-masing dililitkan pada inti besi. Kumparan pertama disebut dengan kumparan primer, dan yang kedua disebut kumparan sekunder.

Kumparan primer akan menerima arus dari baterai, yang kemudian akan diputus oleh breaker point (platina) sehingga pada kumparan sekunder terjadi induksi elektromagnetik dan membangkitkan tegangan hingga 10K volt atau lebih.

Komponen ignition coil
Gambar kontruksi ignition coil (koil pengapian)

Kumparan primer coil memiliki kawat tembaga yang lebih besar (0,5 – 1,0 mm) namun memiliki jumlah gulungan yang lebih sedikit dibandingkan kumparan sekunder yaitu 150 – 300 kali.

Sebaliknya, kumparan sekunder memiliki kawat tembaga dengan diameter yang lebih kecil, namun memiliki jumlah gulungan yang lebih banyak yaitu antara 15.000 – 30.000 gulungan.

3. Distributor

Distributor sistem pengapian
Gambar ilustrasi distributor pada sistem pengapian

Berfungsi untuk membagi/mendistribusikan tegangan tinggi yang telah dibangkitkan oleh ignition coil ke masing-masing silinder. Distributor terdiri dari beberapa komponen yaitu :  

Komponen-komponen Distributor
Komponen-komponen Distributor

a. Cam (nok)

Berfungsi untuk membuka breaker point (platina) pada sudut crankshaft (poros engkol) yang tepat untuk setiap silinder. Nok ini terhubung dengan poros distributor, dan biasanya digerakkan oleh poros nok (cam shaft)

b. Breaker point (platina)

Berfungsi untuk memutuskan arus listrik yang mengalir melalui kumparan primer pada ignition coil untuk menghasilkan arus listrik tegangan tinggi pada kumparan sekunder dengan cara induksi elektromagnet.

c. Kondensor

Berfungsi untuk menyerap loncatan bunga api yang terjadi pada platina saat membuka dengan tujuan untuk menaikkan tegangan coil sekunder.

Baca lebih lanjut : Fungsi Kondensor pada Sistem Pengapian

d. Centrifugal Governor Advancer

Berfungsi memajukan saat pengapian sesuai dengan putaran mesin.

e. Vakum Advancer

Berfungsi untuk memajukan saat pengapian berdasarkan beban mesin. Bentuknya mirip seperti piringan dengan dua buah selang yang dihubungkan ke karburator dan intake manifold.

Komponen yang satu ini dipasang pada distributor, dan dihubunkan dengan backing plate atau dudukan dari platina. Sehingga ketika komponen ini aktif, dia akan menggeser backing plate yang akan mempengaruhi buka tutup platina.

Bagian vakum advancer
Bagian vakum advancer

Keterangan gambar :
1. Plat dudukan kontak pemutus yang bergerak radial
2. Batang penarik
3. Diafragma
4. Pegas
5. Langkah maksimum
6. Sambungan slang vakum

Selengkapnya bisa baca dalam artikel : Fungsi, Bagian, dan Cara Kerja Vakum Advancer

f. Rotor

Berfungsi membagikan arus listrik tegangan tinggi yang dihasilkan oleh ignition coil ke tiap-tiap busi.

g. Distributor Cap

Berfungsi untuk membagikan arus listrik tegangan tinggi dari rotor ke kabel tegangan tinggi untuk masing-masing busi.

4. Kabel Tegangan Tinggi (High Tension Cord)

Berfungsi untuk mengalirkan arus listrik tegangan tinggi dari ignition coil ke busi. Orang kada menyebut komponen ini sebagai kabel busi. 

Kabel busi ini bisa saja mengalami masalah seperti hambatan terlalu besar atau bahkan bisa terputus. Bila hal itu terjadi maka pengapian yang dihasilkan tidak maksimal.

Baca: Cara Memeriksa Kabel Tegangan Tinggi

5. Busi (Spark Plug)

Fungsi Busi adalah untuk menghasilkan loncatan bunga api melalui elektrodanya. Atau mengeluarkan arus listrik tegangan tinggi menjadi loncata bunga api pada elektrodanya. Nama lain dari busi adalah spark plug.

Baca: Penyebab Busi Berwarna Hitam

Cara Kerja Sistem Pengapian Konvensional

Cara kerja sistem pengapian konvensional di bawah ini di bagi menjadi dua bagian yaitu pada saat platina membuka dan pada saat platina menutup.

Cara kerja ini juga mengilustrasikan bagaimana arus listrik dari baterai 12 volt yang kemudian dibangkitkan menjadi 10k volt yang terjadi pada kumparan sekunder ignition coil dan kemudian disalurkan ke-busi melalui kabel busi.

1.  Saat Kontak Platina Menutup

Cara kerja sistem pengapian konvensional saat platina menutup
Cara kerja sistem pengapian konvensional saat platina menutup

Ilustrasi di atas adalah cara kerja sistem pengapian pada saat kontak platina menutup. Pada saat ini aliran arus dari baterai akan mengalir ke kunci kontak, kumparan primer coil, menuju ke platina dan ke massa. Lihat aliran arus pada garis berwarna merah.

Karena kumparan primer pada ignition coil dialiri arus, maka akan terjadi kemagnetan pada kumparan tersebut.

2. Saat Kontak Platina Membuka

Cara kerja sistem pengapian konvensional saat platina membuka
Cara kerja sistem pengapian konvensional saat platina membuka

Ketika nok distributor berputar kemudian membuka kontak platina, maka arus primer (arus yang mengalir pada kumparan primer coil) akan terputus secara tiba-tiba. Pemutusan arus ini akan mengakibatkan indusi elektromagnetik pada kumparan sekunder coil. Tegangan akan dibangkitkan menjadi 10k volt atau lebih.

Arus yang telah dibangkitkan di kumparan sekunder coil ini akan dialirkan ke rotor dan di distribusikan ke masing-masing busi. Busi yang teraliri arus tegangan tinggi akan terjadi loncatan bunga api untuk membakar campuran udara dan bahan bakar.

Kontak platina yang membuka dan menutup akan menghasilkan percikan juga pada kontak platina, percikan ini akan merugikan tegangan dan membuat kontak platina lebih cepat aus.

Merugikan tegangan karena pemutusan arus primer akan terhambat akibat percikan api. Untuk itulah ada kondensor yang akan menyerap tegangan dan menyimpannya, sehingga loncatan bunga api pada platina dapat diminimalisisr. 


EVALUASI

LEMBAR JOBSHEET Kreativitas dan Inovasi dalam Kewirausahaan

 Berikut jobsheet yang disesuaikan dengan ketentuan siswa tidak diperbolehkan menggunakan HP selama pembelajaran. Semua kegiatan dikerjakan...